月曜日, 2月 21, 2011

My Life isn't worth at all


Perih. Perih. Perih.

Entah berapa kali harus kuucapkan kata itu hingga aku bisa puas  dan tak  merasakan hal yang sama lagi. Tapi ternyata berapa kalipun kuucapkan, perih  itu masih bersandar nyaman di dinding hatiku  yang kini kian merana karena sakit yang tak terkira. 

Anggap   saja aku ini penghayal gila. Tapi hanya itu yang bisa  kulakukan untuk memastikan aku merasa nyaman dan tidak tersiksa oleh perih yang sama setiap kali kubentangkan tanganku untuk melihat betapa dunia itu begitu luas dan begitu mengerikan sekarang ini. Entah kapan permulaannya, aku menilai buruk dunia tempatku menapaki hidupku. Padahal, dulu  aku melihat dunia  selayaknya surga indah dimana aku bisa menjadi apa saja yang aku inginkan.

--heh, itu dulu. 

Dan lihatlah sekarang, aku terperangkap dalam sangkar kecil yang membuatku semakin terpuruk dalam keputusasaanku. Menyalahkan orang lain mungkin jalan lain yang bisa kupilih jika ditanya kenapa aku membiarkan diriku dimakan kegelapan seperti ini. Hanya saja, aku tahu bahwa semua itu tak ada gunanya dan pada akhirnya aku tetap tak bisa keluar dari kegelapan panjang yang kian menghancurkanku.

--lalu dimana letak kekhawatiran yang begitu menyiksa ini? Dimana asal mula semua penderitaan ini?

Dewasa. Menjadi dewasa adalah awal dari semua kegelapan panjangku. Ketika menapaki dunia ini dengan wujud  baru yang orang sebut adalah awal dari segala kehidupan baru, aku mulai merasa takut. Ketika dulu orang mengatakan kepintaranku akan membawaku pada kesuksesan, aku hanya bisa tersenyum, karena itu harapanku. Tapi hanya harapan. Harapan kosong yang ternyata membawaku pada rasa percaya diri yang menghancurkan keberadaanku di dunia. Karena ternyata ketika aku memasuki dunia baruku, semua itu tak berarti. Bagai sampah. Iya, dan ketika itu aku hancur.

Kupikir ketika aku mendapat kesempatan untuk memulai semuanya lagi, rasa ragu dan khawatir menyergapku. Hingga saat orang tuaku pun menginginkanku kembali ke  kampung halaman tercinta, aku  tahu aku akan memilih itu. 

--mengkambinghitamkan permintaan seorang ibu yang ingin selalu berada di dekatku.

Cih. Bullshit! Karena sebenarnya aku ini pengecut. Aku ini si pecundang bodoh yang  memang tak bisa apa-apa. Aku takut, aku terlalu takut menghadapi dunia baruku. Bodoh.  Tolol. Si pecundang tolol yang menginginkan segalanya tanpa bersusah payah, sementara dunia ini sekeras batu yang akan meminta tumbal untuk semua  kesuksesan. Takkan pernah kudapatkan hal itu secara Cuma-Cuma.

Maka aku berlindung... dari semua ketakutanku. Aku berlindung dengan imajinasiku. Berharap semua dunia yang berasal dari sana bisa terwujud. Tapi sekalipun tidak akan. Karena aku tak pernah berusaha. Aku terlalu takut untuk memulai.

--hukumlah.

Si bodoh ini memang menyiakan hidupnya. Hidup yang awalnya bagi orang lain begitu indah. Namun tak seindah kelihatannya. Hanya di luar saja, tertawa, tersenyum, dengan sejuta prestasi  yang mengundang decak kagum. Bodoh. Begitu bodoh. Karena sebenarnya, hati itu menangis, membutuhkan pertolongan namun tak pernah mengeluarkan sinyal SOS yang seharusnya ada.

--siapapun, tolong  aku. Tolonglah si bodoh ini.

Kalau saja, duniaku terhenti  saat aku menikmati hidupku ini. Mungkin, aku masih bisa bertahan.  Namun apa daya, poker face inilah teman setia yang bisa membuatku terlihat hidup.

--padahal, air mata itu telah mengering dan menenggelamkanku.

0 comments:

コメントを投稿