火曜日, 11月 30, 2010

1000 words

Fic ini adalah fic yang kutulis berdasarkan sebuah flash comic pada deviantART yang ditunjukkan Yaki padaku, ceritanya benar2 menginspirasiku dan kuyakin banyak orang lain juga merasakan hal yang sama, karena itu aku ingin membagi kisahnya dengan kalian, aku tidak akan mengakui bahwa ini fic buatanku, ini murni kutulis ulang dari flash comic itu, link nya bisa kalian temukan di akhir cerita, semoga aku bisa menuliskan kembali cerita yang menyentuh ini dengan baik.
Nah, selamat menikmati!

Tittle : 1000 Words
Disclaimer : Naruto belonged to Masashi Kishimoto and 1000 Words belonged to Yuumei.deviantart.com ©Wenqing Yan 2009
Ditulis ulang oleh :
 Dhiee (edited by Vinacchi)

Langit cerah di atas sana disertai angin yang terasa bersahabat pagi ini. Di sebuah desa yang damailah kisah ini dimulai, sebuah kisah yang akan mengajarkan betapa berharganya sebuah kata untuk manusia lain karena nilai dari kata itu dapat mengubah apa yang seharusnya rapuh menjadi kuat dan berbeda dan betapa beberapa keputusan dalam hidupmu akan mempengaruhi kehidupan yang lain, maka pilihlah secara bijak.

Di tepi sungai kecil yang berada di sisi kiri jalan desa yang rindang itu terlihatlah seorang pemuda berambut pirang, ia sedang sibuk dengan buku sketsa dan alat gambar yang dia pakai untuk menggambar pemandangan indah desa tersebut. Seorang gadis kecil berambut hitam dan bermata onyx mendekati pemuda pirang itu, dengan langkah yang malu-malu dan sedikit keraguan, ia memperhatikan sketsa yang dibuat si pemuda.

“Ada apa gadis kecil?” tanya si pemuda,

“Kakak, bisakah kau mengajariku caranya menggambar?” tanya si gadis cilik, “kau sangat hebat dalam menggambar,” tambahnya sambil memperhatikan buku sketsa yang ada di tangan si pemuda.

“Tolong ajari aku, aku ingin menggambar sesuatu yang spesial ..” ucapnya seraya menggenggam erat gulungan kertas yang ada di belakangnya, kemudian dengan sedikit keberanian ia memperlihatkan gulungan kertas yang sedari tadi digenggamnya kepada si pemuda, sebuah gambar khas anak kecil yang memperlihatkan pemandangan keluarga yang terdiri dari seorang gadis kecil yang diapit dua orang dewasa di sisi kiri dan kanannya terlihat di kertas yang agak lusuh itu. 

“Tapi yang paling bagus kugambar hanya ini!” ucapnya seraya memperlihatkan gambar miliknya itu. (Klik the tittle to read more...)

Tangis untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari. orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan.
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba. Adikku mencengkeram tangannya dan berkata, 

"Ayah. aku yang melakukannya!" 

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata. 

"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. (klik the tittle to read more...)

水曜日, 11月 24, 2010

Teach me to Live


Ajari aku terbang ke angkasa luas.
Agar aku mampu menyentuh langit dan menggapai bintang.
Menari bersama bulan dan mengecup awan putih.
Aku ingin menjelajahi langit tak berbatas dan menyaksikan indahnya dunia dari atas sana.

Ajari aku berenang ke dasar lautan.
Aku ingin melihat keindahan karang yang menghiasi lautan.
Aku ingin berkenalan dengan ikan-ikan yang berenang bebas disana.
Bercanda ria dengan buih yang bertaburan.

Ajari aku menjadi embun.
Yang menyapa dunia di kala pagi menyambut.
Memberi kesejukan dalam kesendirian.
Mengantarkan kedamaian dalam jiwa-jiwa yang menyambut pagi. (klik the tittle to read more...)

Fairy tale



Aku mematutkan diri di depan cermin. Aku memperhatikan pantulan wajahku di cermin itu. Gaun putih yang kugunakan sangat indah, ditemani make up tipis di wajahku dan buket bunga di tangan kananku. Aku terlihat cantik, benarkan?

 Pernikahan itu masih terlihat jelas di luar sana, kebahagiaan meliputi semua orang yang hadir. Bagaikan sebuah dongeng klasik yang sangat indah itu, sang Romeo akhirnya mendapatkan Juliet. Tentu, kali ini tak perlu ada yang meninggal. Mereka tak layak berpisah lagi, bukan?
 
Makanya, aku yakin Romeo yang asli akan bahagia melihat Romeo yang tengah berpesta dengan teman-temannya itu, karena Romeo yang di luar sana, bisa bersama Juliet yang dia cintai.
 
Pernikahan ini akhirnya tercapai, Romeo mungkin tak bisa mendapat Juliet di kehidupan yang sebelumnya, namun, sekarang semua itu hanya akan jadi kisah lain yang akan mereka kenang di kemudian hari.

Aku berjalan menuju taman dimana pesta pernikahan bertema ‘Garden Party’ itu berlangsung. Mataku memandang sosok ‘Romeo’ yang sedang berbahagia setelah pernikahannya itu terwujud. Rambut pirang yang berantakan itu terlihat rapih ditemani tuxedo hitam yang makin memperlihatkan ketampanannya. Ia tersenyum melihatku, bisa kulihat di wajahnya kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata sekalipun.
 
Ah, aku tahu, Romeo. Kau pasti sangat bahagia sekarang.

 Aku membalas senyumannya. Mata emerald ku pun menatap sepasang mata onyx di sebelahnya. Gadis itu tersenyum, sangat cantik. Rambutnya tertata rapih, (klik the tittle to read more...)