火曜日, 1月 17, 2012

Dearest


Dearest Vina—I am sorry.

Anggap aja ini titik tertinggi yang bisa aku raih. Kalau aku berhenti sekarang, semuanya tidak akan sesakit nanti saat aku merasa sudah menjadi bagian dari yang lain. Tidak—masih belum, Vina. Aku akan berkata tidak saat kamu bertanya apa aku sudah merasa punya tempat pulang atau setidaknya menjadi bagian dari yang lain.

Tidak— definitely.

Aku masih aku yang dulu. Masih aku yang belum percaya aku itu special, aku itu punya sesuatu yang bisa membuatku dicintai. Sebut aku tidak tahu terima kasih pada Tuhan. Tapi bukan karena itu aku bersikap begini. Tuhan sudah memberikan yang terbaik, Vina. Yang terbaik yang bisa diberikannya pada manusia. Dan aku hanyalah produk gagal karena aku tidak bisa seperti yang lain.

Aku tidak punya tempat. Sama sekali tidak.

Hell, seharusnya aku tahu Ibuku itulah tempat pulangku. Beliau adalah karunia terindah dari Tuhan, aku harus bersyukur untuk itu.

Hm? kau ingin tahu kenapa aku bersikap begini setelah sekian lama kau merasa aku sudah bisa berjalan di jalan setapak milikku sendiri?

Dearest Vina,

Aku tertolak—lagi. Sudah berapa kali, hm? entah. Aku tidak bisa menghitungnya. Lebih tepatnya mungkin tidak sanggup menghitungnya. Tempatku tidak disana. Tidak di mana rata-rata orangnya adalah sosok-sosok yang tidak menyukai keberadaanku.

Oke, silahkan kamu bilang aku paranoid. Entahlah, rekan satu kerjaku bilang aku hanya terlalu sensitive. Sesekali aku jadi seorang ignorant itu penting katanya. Tapi surely, it bring me down—completely. Aku merasa gak sanggup, gak bisa, aku nyerah Vin, maafin. Maaf.

Tapi Vina,

Kau harus bangga. Setidaknya, aku sudah sejauh ini. Sudah jauh melangkah dibanding saat aku bilang terakhir kali kalau aku nyerah. Syukur-syukur kalau ada sesuatu yang bisa buat aku bangkit lagi. Tapi sudahlah, aku menggantung harapanku. Maafkan kalau suatu saat aku menghilang, entah di mana. Aku hanya ingin istirahat. Sedikit saja.