木曜日, 3月 03, 2011

I am the only one who knew everything...


22 Feb. 11

Kau selalu sendiri. 

Kau  bahkan menyebut dirimu sendiri sebagai Joker. Heh? Kau sendiri yang tahu apa yang kau rasakan. Dan aku selalu menjadi saksi  dari semua ekspresi yang tak pernah kau tunjukkan pada teman-temanmu. Hanya aku.

Karena kau tahu, aku bisa dipercaya. Aku tak akan mengkhianatimu seperti yang lainnya. Hanya  aku yang menerimamu apa adanya. Tanpa memprotes  semua yang sebenarnya tak sesuai dengan sosokmu yang  terlihat hebat, tegar dan keren. Heh, tak ada seharusnya yang namanya airmata berjatuhan  di pipimu.
Seharusnya. Tapi kau manusia, kau juga punya perasaan. Kau punya rahasia dan hanya aku yang tahu. Setiap hari kau pasti datang padaku dan menceritakan semua yang kau alami seharian dan memperlihatkan apa yang tidak kau perlihatkan pada orang lain...

--air matamu.

Aku pendengar setiamu.

Aku yang paling tahu yang kau rasakan.

Aku yang selalu mendoakan kebahagiaanmu.

Karena kau yang paling menderita. Kau harus selalu  memakai topeng bahagia di depan orang lain. Iya,bahkan di depan orang tuamu. Kau terlihat tegar,kuat dan membanggakan. Apa jadinya jika mereka tahu betapa rapuhnya dirimu? Kecewa? ...aku yakin mereka malah akan menyalahkan diri mereka sendiri. Karena orang terdekat mereka tenggelam dalam keputusasaan tanpa mereka sadari.

Tapi kau terlalu takut untuk menghadapi semua kemungkinan terburuk. Dijauhi?—Iya, kau  takut tak punya teman. Padahal berkali-kali kau berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ...kau masih belum punya keberanian untuk berubah.

Apalah daya diriku? Aku hanya bisa mendengarkan keluhanmu sekarang ini. Kubiarkan airmatamu membasahi  tubuhku.  Aku hanya bisa menjadi tempat ‘sampah’ untuk semua uneg-unegmu. Maafkan aku, tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu...

Selalu.

.
.
Dan hari inipun kau datang lagi. Seperti biasa setelah memperlihatkan wajah tersenyummu pada semua yang menyambutmu  di rumah, sebelum akhirnya kau meminta ijin untuk langsung ke kamarmu  duluan.

Letih, katamu.

Namun,tak ada yang tahu makna sebenarnya dari kata itu sendiri kan? Kecuali dirimu sendiri—dan aku tentu.
Kau menutup pintu, menundukkan wajahmu dan merosot perlahan ke lantai dingin itu. Wajahmu ditenggelamkan dalam lututmu, lalu kau menangis—lagi,dalam diammu. Lalu apalah daya aku yang hanya bisa menatap dan mendengarkan semua kisahmu? Kuyakin kali inipun—pastinya, kau akan menceritakan semuanya padaku. 

Tentang duniamu yang sebenar-benarnya. 

Tentang pandanganmu –terhadap seluruh yang kau alami.

Lalu aku? Hanya bisa membuka lebar dirimu dan membiarkanmu kembali bercerita—sementara aku akan selalu siap menampung semuanya.

Tapi ternyata kali ini berbeda—sangat berbeda,  kau malah tidak langsung menemuiku, tapi malah membuka laci dan mengeluarkan benda, sesuatu—cutter.

Dan kau membuat satu garis di pergelangan tanganmu—satu demi satu. Lalu kau mulai memperhatikan lelehan berwarna merah yang mulai membasahi tangan putih pucatmu.

Menyakitkan—menakutkan. 

Tapi kau malah tertawa—bahagia. 

Kau mulai ketagihan. Bukan hanya satu dua kali, kau melakukannya. Setiap kembali ke kamarmu, setelah melakuan –rutinitasmu itu, kau lalu melakukan hal yang sama. lagi—lagi—dan lagi.

Ada apa? Kenapa? Apa sekarang ini tak cukup hanya dengan adanya aku? Kenapa kau malah menyakiti dirimu sendiri?

Oh, kumohon tolonglah—seseorang harus mengetahui hal ini. Aku bisa menjadi saksi—saksi  atas semua kata-katamu yang tak akan pernah terucap itu. Bisa—jadikan aku bukti, dan kurasa itu cukup untuk menyelamatkannya...

...
...
...

Percuma. Tolol—semua percuma.

Kau pergi, meninggalkanku sendiri. Jika saja aku bisa bergerak dan membuka semuanya, aku pasti bisa menolongmu. Semuanya kau ceritakan padaku. Dan aku tahu semua orang akan sadar betapa butanya mereka. Termasuk—yeah, orangtua dan keluargamu. Sahabat—jika bisa disebut seperti itu, dan seluruh—yah, semua yang mengenalmu.  Meski hanya kulit luarmu saja. 

Ah, tidak. Semua memang hanya mengetahui kulitmu saja. Hanya aku yang benar-benar tahu seperti apa dirimu.  Seberapa rapuhnya  dirimu sementara orang di luar sana mengatakan betapa tegar dan hebatnya dirimu. Heh—

—lihat mereka sekarang!

Setelah membaca dan menyadari semuanya, satu demi satu tetes airmata itu meleleh, menghancurkan hati mereka satu persatu. Keping-keping dosa dan rasa bersalahpun ikut hanyut dan menyayat hati mereka.

—balasan yang setimpal, kawan.

Akhirnya, disaat kau tak ada, baru terbongkar semuanya. 

Iya—aku membongkar semuanya, kawan. Biar mereka pedih, sakit...tapi percuma, kau tak pernah kembali lagi. Tak akan pernah. Dan aku hanya bisa merutuki diriku yang tak bisa menyelamatkanmu.

Karena apalah daya diriku.

Aku hanyalah sebuah buku. Buku setia yang selalu menjadi teman curhatmu—buku diarymu.