火曜日, 11月 30, 2010

1000 words

Fic ini adalah fic yang kutulis berdasarkan sebuah flash comic pada deviantART yang ditunjukkan Yaki padaku, ceritanya benar2 menginspirasiku dan kuyakin banyak orang lain juga merasakan hal yang sama, karena itu aku ingin membagi kisahnya dengan kalian, aku tidak akan mengakui bahwa ini fic buatanku, ini murni kutulis ulang dari flash comic itu, link nya bisa kalian temukan di akhir cerita, semoga aku bisa menuliskan kembali cerita yang menyentuh ini dengan baik.
Nah, selamat menikmati!

Tittle : 1000 Words
Disclaimer : Naruto belonged to Masashi Kishimoto and 1000 Words belonged to Yuumei.deviantart.com ©Wenqing Yan 2009
Ditulis ulang oleh :
 Dhiee (edited by Vinacchi)

Langit cerah di atas sana disertai angin yang terasa bersahabat pagi ini. Di sebuah desa yang damailah kisah ini dimulai, sebuah kisah yang akan mengajarkan betapa berharganya sebuah kata untuk manusia lain karena nilai dari kata itu dapat mengubah apa yang seharusnya rapuh menjadi kuat dan berbeda dan betapa beberapa keputusan dalam hidupmu akan mempengaruhi kehidupan yang lain, maka pilihlah secara bijak.

Di tepi sungai kecil yang berada di sisi kiri jalan desa yang rindang itu terlihatlah seorang pemuda berambut pirang, ia sedang sibuk dengan buku sketsa dan alat gambar yang dia pakai untuk menggambar pemandangan indah desa tersebut. Seorang gadis kecil berambut hitam dan bermata onyx mendekati pemuda pirang itu, dengan langkah yang malu-malu dan sedikit keraguan, ia memperhatikan sketsa yang dibuat si pemuda.

“Ada apa gadis kecil?” tanya si pemuda,

“Kakak, bisakah kau mengajariku caranya menggambar?” tanya si gadis cilik, “kau sangat hebat dalam menggambar,” tambahnya sambil memperhatikan buku sketsa yang ada di tangan si pemuda.

“Tolong ajari aku, aku ingin menggambar sesuatu yang spesial ..” ucapnya seraya menggenggam erat gulungan kertas yang ada di belakangnya, kemudian dengan sedikit keberanian ia memperlihatkan gulungan kertas yang sedari tadi digenggamnya kepada si pemuda, sebuah gambar khas anak kecil yang memperlihatkan pemandangan keluarga yang terdiri dari seorang gadis kecil yang diapit dua orang dewasa di sisi kiri dan kanannya terlihat di kertas yang agak lusuh itu. 

“Tapi yang paling bagus kugambar hanya ini!” ucapnya seraya memperlihatkan gambar miliknya itu. (Klik the tittle to read more...)

Tangis untuk Adikku

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari. orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih daripada aku mencintainya. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan.
"Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba. Adikku mencengkeram tangannya dan berkata, 

"Ayah. aku yang melakukannya!" 

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan napas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata. 

"Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. (klik the tittle to read more...)

水曜日, 11月 24, 2010

Teach me to Live


Ajari aku terbang ke angkasa luas.
Agar aku mampu menyentuh langit dan menggapai bintang.
Menari bersama bulan dan mengecup awan putih.
Aku ingin menjelajahi langit tak berbatas dan menyaksikan indahnya dunia dari atas sana.

Ajari aku berenang ke dasar lautan.
Aku ingin melihat keindahan karang yang menghiasi lautan.
Aku ingin berkenalan dengan ikan-ikan yang berenang bebas disana.
Bercanda ria dengan buih yang bertaburan.

Ajari aku menjadi embun.
Yang menyapa dunia di kala pagi menyambut.
Memberi kesejukan dalam kesendirian.
Mengantarkan kedamaian dalam jiwa-jiwa yang menyambut pagi. (klik the tittle to read more...)

Fairy tale



Aku mematutkan diri di depan cermin. Aku memperhatikan pantulan wajahku di cermin itu. Gaun putih yang kugunakan sangat indah, ditemani make up tipis di wajahku dan buket bunga di tangan kananku. Aku terlihat cantik, benarkan?

 Pernikahan itu masih terlihat jelas di luar sana, kebahagiaan meliputi semua orang yang hadir. Bagaikan sebuah dongeng klasik yang sangat indah itu, sang Romeo akhirnya mendapatkan Juliet. Tentu, kali ini tak perlu ada yang meninggal. Mereka tak layak berpisah lagi, bukan?
 
Makanya, aku yakin Romeo yang asli akan bahagia melihat Romeo yang tengah berpesta dengan teman-temannya itu, karena Romeo yang di luar sana, bisa bersama Juliet yang dia cintai.
 
Pernikahan ini akhirnya tercapai, Romeo mungkin tak bisa mendapat Juliet di kehidupan yang sebelumnya, namun, sekarang semua itu hanya akan jadi kisah lain yang akan mereka kenang di kemudian hari.

Aku berjalan menuju taman dimana pesta pernikahan bertema ‘Garden Party’ itu berlangsung. Mataku memandang sosok ‘Romeo’ yang sedang berbahagia setelah pernikahannya itu terwujud. Rambut pirang yang berantakan itu terlihat rapih ditemani tuxedo hitam yang makin memperlihatkan ketampanannya. Ia tersenyum melihatku, bisa kulihat di wajahnya kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata sekalipun.
 
Ah, aku tahu, Romeo. Kau pasti sangat bahagia sekarang.

 Aku membalas senyumannya. Mata emerald ku pun menatap sepasang mata onyx di sebelahnya. Gadis itu tersenyum, sangat cantik. Rambutnya tertata rapih, (klik the tittle to read more...)

日曜日, 9月 26, 2010

The Scent of Coffee



“Pagi Naruto!” sapa Sai dengan senyum ‘tanpa perasaannya’ itu. Cowok yang disapa melambaikan tangan dan berjalan menuju counter bar dimana Sai berada. Rambutnya pirang dengan mata biru seperti layaknya langit seakan ikut tersenyum saat bibirnya membentuk senyuman dan menyapa kembali rekan kerjanya itu.

“Pagi Sai!” ucapnya begitu berada di depan counter bar. Ia lalu merapihkan barang-barang yang akan digunakan untuk pekerjaan hari itu. “Tumben kau pagi sekali Naruto” ucap Sai yang membuat wajah Naruto sedikit memerah. Melihat itu, Sai lalu teringat sesuatu, sambil menepuk dahinya ia berkata “Oh iya, hari ini hari selasa ya? Aku lupa!” katanya sambil tersenyum jahil pada Naruto membuat wajah cowok pirang itu makin memerah.

Ya... ini hari selasa, hari yang spesial, hari yang membuat seorang Naruto dapat bangun pagi dan tidak terlambat sama sekali. Hal itu akan aneh jika orang-orang tahu bahwa ia adalah orang yang paling sering terlambat.

KRING! 

Seorang gadis berambut hitam pendek sebahu dengan pita Kuning mengikat rambut hitam lebatnya itu masuk ke dalam cafe tersebut. Naruto seketika menyapa dan mempersilahkan masuk “Selamat datang!” ucapnya kemudian berjalan ke arah gadis itu untuk melayani.

“2 cangkir cappucino dan cheese cake” ucapnya saat Naruto ada di dekatnya. “Baik!” Naruto kembali ke counter bar untuk mengambil pesanan gadis itu. Sementara sang gadis berbalik melihat ke arah luar.

Naruto’s POV

“2 cangkir cappucino dan cheese cake” ucapku pada Sai. Ia terlihat mengerutkan dahi, “2 cangkir lagi? Seperti biasa ya? Bahkan ia duduk di tempat yang sama” ucap Sai seraya melihat ke arah meja dekat jendela yang dapat melihat pemandangan di luar cafe dengan sangat jelas. 

Aku mengangguk, benar, entah siapa yang ia tunggu, setiap selasa ia datang dan memesan 2 cangkir cappucino dan duduk di tempat yang sama, tapi hingga akhirnya ia pulang atau cafe tutup, tak pernah ada satu orangpun yang datang padanya, pikirku sambil menatap gadis dengan mata onyx itu.

“Ini pesanannya” ucap Sai sambil menyerahkan pesanan sang gadis padaku. Aku berjalan menuju meja itu dan menyerahkan pesanannya “Silahkan nona” ucapku sambil meletakkan pesanannya di meja. Ia menatapku sesaat lalu berkata “Terima kasih”. Aku mengangguk dan kembali berjalan ke arah counter. Seringkali aku berpikir untuk menyapanya, namun aku belum punya keberanian itu.

“Dia juga selalu menggunakan pita kuning itu, iya kan?” tanya Sai saat aku sudah berada di depan counter bar. Aku mengangguk menyetujui.  Entah rahasia apa dibalik pita itu, ia gadis yang memiliki banyak misteri, gadis yang selalu duduk di tempat yang sama, memandang keluar sepanjang hari, memesan dua cangkir cappucino, kadang aku sering bertanya apa dia sedang menunggu seseorang?... 

Dia... seorang gadis yang suatu saat, aku akan punya keberanian untuk bertanya padanya, apakah kau punya seseorang yang kau sukai?

Aku kembali sibuk dengan tamu-tamu yang lain yang mulai berdatangan. 

End of POV

Gadis berambut hitam hanya mematung sambil terus melihat ke arah luar cafe. Meja itu memang sangat strategis, dinding kaca di sekitarnya terlihat sangat cantik dan pemandangan luar dapat langsung dinikmati oleh para tamu. Mata onyx gadis itu terus melihat pada satu sosok yang ada di kaca.

Sasuko’s POV

Aku mendesah pelan, mataku tetap melihat ke arah dinding kaca yang memisahkanku dari luar. Aku mendengar pembicaraan dua karyawan itu. Entah apa yang akan dikatakan cowok pirang dengan mata birunyaitu jika ia tahu apa yang kupikirkan. Teringat di kepalanya tentang percakapan mereka 3 bulan lalu,

“Hei Naruto! Kau lihat film kemarin?” Tanya pemuda tanpa ekspresi itu. “Yeah! Keren sekali! Tokoh utama wanitanya sangat cantik! Pita kuningnya juga membuatku terus terkenang karena pita itu cocok sekali dengannya!” ucap pemuda pirang itu. 

“Dasar bodoh! Kau sebegitu sukanya dengan pemeran utama wanita itu?” pemuda pirang itu hanya tersenyum malu “Hahaha...begitulah!”

Aku melihat pemandangan luar, menikmatinya sambil mengamati sosok seseorang. Pemandangan seperti ini sangat cocok untuk dinikmati dengan secangkir cappucino dan seseorang yang kau inginkan, karena itulah aku memesan dua cangkir cappucino, untuk menanti orang yang akan duduk denganku sambil menikmati pemandangan di luar. Mataku tetap memperhatikan sosok pemuda dengan rambut pirangnya sedang membersihkan meja di dekat mejaku melalui dinding kaca ini.

Dia tidak akan pernah tahu, bahwa satu dari dua cangkir cappucino yang kupesan... adalah untuknya. Bahwa aku ingin membagi rasa nikmatnya aroma kopi dan pemandangan indah ini dengannya.
Andai aku bisa lebih berani mengajaknya....

Note : Ini di tulis ulang olehku sesuai sebuah komik oneshot yang singkat. aku lupa nama pengarangnya.



木曜日, 9月 09, 2010

Glass Of Innocence


Ayah...
Aku rindu padamu...
Kau tidak akan pernah tahu betapa irinya aku melihat banyak temanku dengan bangganya bercerita tentang hebatnya ayah mereka,
Sementara aku hanya bisa menunduk sedih memandang tanah di bawahku dan mengubur kisah bahagiaku tentang bagaimana rasanya memiliki seorang ayah,
Aku tahu, meski kau sering menyakiti hati ibu, menyakiti hati kami, dan menimbulkan banyak tanggapan kekecewaan dari pihak keluarga lain, aku tetap percaya kau selalu mencintai kami dengan caramu sendiri...
Aku percaya 
....dan akan selalu percaya.
...
...
Aku berdiri di sini, diam tanpa suara, bisikan angin terus menemani. Kutatap nanar pusara di hadapanku, sebuah pusara yang terlihat rapuh dan usang. Tentu saja usang, karena pusara itu telah ada sejak 11 tahun yang lalu. Saat aku menyadari betapa aku mencintaimu di usiaku yang sangat muda saat itu, kau pergi... selamanya, tanpa memberikan sedikit penjelasan tentang betapa kau mencintaiku. Aku juga belum sempat mengatakan aku sayang padamu, karena selama ini aku tahu aku telah menunjukkan banyak ekspresi padamu, termasuk yang paling sering kulakukan, ekspresi yang menunjukkan betapa aku membencimu karena kau tak ada saat aku membutuhkanmu...

Sekelebat memori terlihat di hadapanku, semua keadaan sekitarku berubah. Pemandangan sebuah pusara di hadapanku berubah menjadi pemandangan sebuah taman yang ramai penuh gelak tawa anak-anak yang bermain di sana. Sesekali tampak canda beberapa orang dewasa di sekitar mereka yang memandangi dengan bahagia anak-anak mereka.

Namun aku melihat pemandangan yang berbeda pada seorang gadis cilik berambut hitam dan bermata sebiru langit yang sedang duduk menyendiri memandangi anak-anak lain seusianya di taman itu. Pandangan matanya yang nanar terlihat bertolak belakang dengan keindahan warna matanya yang seharusnya secerah langit itu.
...
“Ibu, ayah mana? Kenapa aku tak punya ayah seperti yang lain?” tanya gadis kecil itu. Sang ibu hanya bisa menatap sedih padanya, rambut hitamnya yang tergulung lembut melambai perlahan saat ia menggeleng pelan. 

“Syaki punya ayah kok, bukankah Syaki sering menemuinya saat liburan dan hari besar datang?” Tanyanya lembut seraya membelai rambut hitam gadis yang ada dihadapannya. 

Gadis itu menggeleng keras, “Dia bukan ayah Syaki! Dia tak bisa apa-apa! Dia bahkan tak tinggal bersama kita kan? Dia tak bekerja ibu! Aku mau ayah yang lain! Aku benci dia!” Teriaknya, tangannya terkepal kuat, rasa sakit mulai terasa pada kedua tangan itu, tapi sakit yang lain lebih mendominasi, sebuah sakit yang berpusat di dadanya.

Anisa hanya bisa menatap penuh luka gadis kecilnya, ia tak menyangka sebegitu bencinya gadis cilik itu pada ayahnya, padahal Fikri sudah berusaha memperbaiki kesalahannya, meski ia sekarang terbaring sakit di rumah salah satu kerabat miliknya, tapi ia sudah banyak berubah, yah walaupun begitu, wanita berambut hitam itu tahu hatinya masih terluka karena ketidakpedulian suaminya dulu. Betapa banyak airmata yang keluar untuk laki-laki itu, betapa banyak yang telah dikorbankan dan betapa terlukanya sang gadis cilik yang merupakan putri mereka satu-satunya karena tidak bertanggungjawabnya ia akan tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga. Meski mereka satu atap, namun tak ada satupun di antara Anisa dan putri mereka yang merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang lengkap.

“Syaki ingin ayah... yang lain...”Anisa mendudukkan dirinya dihadapan gadis kecilnya, kini mata mereka beradu, “Syaki sayang... jangan membenci ayahmu seperti itu...jangan biarkan kebencian menguasai dirimu...” Ucapnya sambil mengusap pelan rambut gadis kecil miliknya.
...
Aku melihat gadis kecil itu lagi, ia terlihat berada dalam sebuah sekolah sekarang, meski suasana di sekitarnya berbeda, namun pandangan sedih itu terus terlihat. Ia kembali berada dalam kesendirian saat sekitarnya membicarakan dengan bangga sang ayah yang bekerja untuk keluarga mereka.

“Ayahku jarang di rumah di pagi hari, tapi begitu sore ia akan pulang membawa beberapa cemilan untukku” Ucap seorang anak perempuan berambut hitam itu.

Seakan tak mau kalah, anak laki-laki di sampingnya ikut membanggakan ayahnya,”Ayah selalu membawaku dan kakak ke taman bermain saat hari minggu dan hari libur!”

“Ayahku selalu membelikanku baju baru saat ia datang dari luar kota...”

“Kalau aku....” dan beberapa macam ayah lain yang terdengar oleh telinga mungilnya, hatinya kuyakin dipenuhi rasa amarah akan ayahnya yang tak bisa apa-apa itu. Seorang ayah yang hanya bisa menyakiti ibunya dan dirinya. Ya ampun, ia bahkan tak pernah tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah!

Air mata mulai mengenangi matanya. Ah, aku tahu gadis kecil, aku mengerti itu, rasanya ingin aku mengusap kepalamu dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Bahkan seketika kurasakan sakit yang sama yang pernah kurasakan dulu, yah, dulu sekali.

Bayangan gadis itu yang berada di sekolahnya menghilang dan berganti dengan cepat sebuah pemandangan ia berada dalam sebuah ruangan dimana banyak orang di dalamnya. 

“Kasihan ya, padahal Syakira masih di sekolah dasar...”

“Wah, padahal Anisa masih sangat muda ya, kasihan sekali”

“Mereka sekarang tinggal berdua ya?”

Bisik-bisik itu terus terdengar, mereka benar-benar keterlaluan sampai tetap saja bergosip sementara sang tokoh sedang berada di dekat mereka. Bahkan dengan tampang kasihan mereka memandangi gadis pirang itu dengan tatapan iba. 

Tidak!

Bukan itu yang diinginkan gadis itu!

Rasanya ingin kuteriakkan kata-kata itu, mereka tak mengerti apa-apa mengenai gadis itu, gadis kecil itu tak peduli dengan apapun pendapat mereka mengenai dirinya yang masih terlalu muda untuk ‘ditinggalkan’ karena sebenarnya ia sudah terbiasa dengan keadaan dimana ia memang merasa ia hanya memiliki sang ibu. Namun yang sekarang berada dalam hatinya bukan itu...

Sama sekali bukan...

Gadis kecil itu hanya menatap nanar keadaan sekitarnya, hatinya hancur, bukan karena ia tak punya ayah lagi, tapi karena ia tak pernah sempat mencintai sang ayah. Ia hanya sempat memberinya tatapan benci, dan ia menyesali semua itu.

Ia berjalan lesu menuju kamarnya, kemudian menutupnya perlahan, aku mengikutinya ke dalam. Gadis kecil itu terduduk dengan pundak yang mulai bergetar. Ya ampun... gadis itu harus merasakan luka di usianya yang sangat muda. Ingin kurangkul dirinya dan mengatakan bahwa ia tak salah, ia tak perlu menyalahkan dirinya dan akupun merasakan kembali luka yang telah kukubur dalam di hatiku sejak dulu. Yah... sejak dulu.

“A-Ayah... aku minta maaf...” Ucapnya parau, kedua tangannya kini menutupi wajahnya yang berair karena butiran airmata yang tak henti jatuh dari mata birunya itu.

Pundaknya bergetar, mencoba menahan sakit yang dirasakannya, “Maaf... Syaki... sayang ayah kok... Aku selalu sayang padamu...” Ucapnya tak henti di sela-sela tangisnya. 

Ah~ gadis itu, ingin kurangkul pundaknya, mengatakan bahwa perasaannya pasti telah sampai. Ia hanya sedikit melakukan kesalahan dengan membenci sang ayah, dan itu wajar karena ia tahu perasaan itu, ia tahu ia hanya kecewa pada sikap ayahnya yang pernah menyakitinya.
...
Gadis itu menepis tangan yang berusaha menyentuhnya lembut. Seketika itu pandangan mata laki-laki pirang yang ada di hadapannya itu memperlihatkan luka, namun ia tetap berusaha menunjukkan pandangan penuh kasih pada gadis miliknya, putri kesayangannya yang pernah ia abaikan.


Hari ini seperti tahun kemarin, ia hanya sendirian menemui sang ayah. Ibunya belum sanggup bertemu dengannya. Sisa-sisa luka yang diberikan laki-laki itu belum sepenuhnya sembuh, ia tahu ia suatu saat nanti akan menemuinya karena sebenarnya ia masih mencintainya. Namun, ia harus memastikan gadis kecil miliknya tidak melakukan hal yang sama. karena itu, disinilah ia, kembali menemui sang ayah meski dengan hati yang penuh kebencian.


“Syakira, boleh ayah memelukmu?” Tanya Fikri sembari menatap lembut gadis kecilnya. Gadis kecil itu menatap penuh kebencian, meski begitu ia tahu laki-laki itu tetaplah ayahnya bagaimanapun bencinya ia. Karena itu, ia biarkan tubuh kecilnya dipeluk erat sang ayah. Kemudian ia juga menyadari, meski ia membencinya, ia selalu merindukan kehangatan pelukan ini. Perlahan, airmatanya mulai memenuhi kedua bola mata berwarna biru itu, oh.. betapa ia rindu pelukan ini. Namun, tangannya tak sedikitpun terangkat untuk memeluk balik tubuh sang ayah dan akhirnya menyisakan duka baru pada laki-laki yang kini berada di kursi roda itu. Yah, kenyataan bahwa anaknya tak lagi menginginkannya...

...
Gadis itu semakin terisak, pundaknya bergetar. Ia merasakan pedih yang sangat, luka itu menganga lagi. Luka yang sama saat sang ayah meninggalkannya dan ibunya, ketika ia menjadi orang tua yang tak bertanggungjawab. Bukan, bukan ini yang diinginkannya, aku tahu ia selalu menginginkan keberadaan kedua orang tuanya yang bersama dan tidak berpisah. Meskipun berkali-kali ia mengatakan ia membenci ayahnya, ia tahu ia sangat merindukan kehangatan kasih sayangnya dan sekali lagi, ia terluka karena merasa bersalah belum sempat mengatakan cinta pada ayahnya. 

Tanganku terlurur, berusaha untuk menggapai pundaknya yang bergetar, ingin kubelai ia, menenangkan hatinya yang penuh luka. Namun, aku tak punya banyak keberanian. Aku merasa tak begitu kuat dan seketika itu juga sakit menghampiriku. Aku bisa merasakan seluruh tubuhku berdenyut sakit. Terutama sakit yang berasal dari dadaku. Benar, aku memahami sakit ini, sakit yang juga dirasakan gadis kecil yang ada di hadapanku kini.


Aku terduduk dengan lutut bertumpu pada tanah. Aku menatap tubuh kecilnya yang terus begetar, aih~ betapa sakitnya, aku mengerti sakit itu gadis kecil. Kuulurkan tanganku untuk memeluknya dalam kelembutan, “Tak apa-apa” Lirihku tertahan. Isaknya terhenti sesaat, tak lama kemudian kurasakan tangan kecilnya mulai melingkari leherku, ia memelukku. Kurasakan kehangatan mulai menjalar ke dalam tubuhku, rasa sakit itu perlahan menghilang. Beberapa saat kemudian, aku melepaskan pelukanku, kemudian aku menatapnya lembut, kurasakan banyak keberanian yang ditimbulkan saat kehangatan ini menghampiriku. Aku membuka mulutku untuk mengucap pelan semua yang ingin kukatakan sejak dulu.

“Semua akan baik-baik saja. Tak perlu menyalahkan dirimu untuk semua yang terjadi. Kau telah memberikan yang terbaik, kini waktunya kau bahagia... jangan khawatirkan apa-apa lagi...


Aku akan baik-baik saja... terima kasih untuk selama ini...” Ucapku padanya, gadis kecil itu sejenak terdiam kemudian bibirnya menyunggingkan senyum yang bahagia, dan perlahan-lahan bayangannya mulai menghilang dan berbaur pada udara di sekitar.

‘Yah, semua akan baik-baik saja, gadis kecil... 

Kembalilah, dan sekarang kau pantas bahagia, 

Luka itu jangan dibiarkan menganga lagi, 

Aku merasakan itu semua dan aku ingin memperbaikinya, gadis cilik...

Engkau... yang merupakan diriku di masa lalu... tenanglah... jangan khawatir lagi...

Aku akan baik-baik saja..'

Aku mencintaimu ... Ayah.

金曜日, 8月 13, 2010

My silent Love

The world is getting quiter

Hari ini hujan deras di luar sana, aku masih dapat menderas derasnya air yang turun di langit. Seakan-akan langit menangis, seperti menemani hatiku yang mendung dan akan menangis. Langit sangat gelap, seperti mewakili hatiku yang sekarat, hari ini adalah waktunya aku menyerah pada takdir, waktunya aku mengharap pada Tuhan, aku ingin bersamanya lebih lama lagi, tapi jika besok aku tak bisa berada di sampingnya lagi, biarlah hanya suara hatiku yang sampai padanya, semoga ia tak berada pada kegelapan dan kesendirian yang tak berujung, semoga ia selalu merasakan kehadiranku, meski suaraku tak lagi terdengar olehnya.
.
.

Flash back

“Asuma-sensei! “ panggilku pada seorang pria dengan jubah putih dan sepuntung rokok di mulutnya. Ia berbalik dan melihat kearahku.

“Yo, Shika, ada apa? Kau sampai datang ke rumah sakit sepeti ini” katanya.
Aku berjalan mendekati meja kerjanya. Lalu menyerahkan seberkas laporan padanya, “Ini laporanku, aku sudah mengerjakan semuanya dan urusanku dengan sensei selesai semester ini” ucapku.

Ia mengerutkan keningnya. “Kau datang ke sini hanya untuk menyerahkan laporan akhir semestermu?”

Aku mengangguk.”Tentu saja, karena dengan begitu aku bisa lebih cepat menikmati liburan semester ini, dan tidur sepanjang waktu”.

Ia tertawa, maksudku tertawa lebar, aku mendesah, benar-benar sensei yang menyebalkan, bisa-bisanya dia menertawaiku? “Kau ingin berhibernasi Shika?” tanyanya sambil tetap tertawa.

Aku berjalan keluar ruangannya, “terserahlah apa kata sensei” ucapku sebelum meninggalkan ruangan itu. Di luar ruangan, rasanya aku masih bisa mendengar suara tawanya. Troublesome!

Aku berjalan di koridor rumah sakit yang luas, rumah sakit ini termasuk salah satu rumah sakit yang paling terkenal di kota ini. Rumah sakit ini bekerjasama dengan universitas kedokteran dimana aku belajar dan salah satu dosenku adalah Asuma-sensei, guru yang selalu menemaniku bermain catur saat aku bosan dan selalu mengkritik kebiasaan tidurku, memang apa salahnya kalau aku doyan tidur? Huh.. membosankan dunia seperti ini.. sebenarnya aku mulai bosan, mulai tidak yakin akan masa depanku, entahlah aku sendiri tak tahu apa cita-citaku. Aku tak pernah serius dalam bidang kedokteran, hanya saja orang tuaku ingin aku jadi dokter, dan karena otakku termasuk lancar, aku gampang saja masuk ke universitas yang terkenal itu.

Ruangan di setiap rumah sakit ini rata-rata berkelas, namun untuk orang yang tidak mampu, mereka tidak akan memberatkan. Sepertinya pemiliknya adalah orang yang memiliki hati yang sangat baik. Aku berjalan menyusuri koridor menuju taman di belakang rumah sakit ini, kurasa aku ingin menikmati sedikit pemandangan disini. Aku sering ke rumah sakit ini untuk bertemu dengan Asuma-sensei, sekedar menghilangkan rasa bosanku jika harus tidur di rumah terus.

Aku telah sampai di taman belakang rumah sakit. Mataku mencari tempat yang cocok untuk kujadikan tempat tidur. Aku berjalan menuju tembok dengan jendela kecil di atasnya. Kusandarkan badanku di tembok itu lalu mulai menutup mata. Aku sedang menikmati nyamannya udara taman itu sambil menunggu mataku benar-benar terpejam saat aku merasa kehadiran seseorang di dekatku. Kubuka mataku dan mataku mulai mencari sosok yang mengganggu tidurku. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri namun nihil.

“Sa...suke?” suara lembut dan nyaman terdengar jelas di dekatku. Aku menoleh ke atas ke arah jendela salah satu ruangan di rumah sakit itu. Seorang gadis dengan rambut pirang dan mata biru seperti langit itu menatapku dengan wajah bingung.

“Sasuke-senpai? Itu kau?” tanyanya lagi. Aku berdiri dan akhirnya kami saling berhadapan, ia menyipitkan matanya sambil menatapku.

“Maaf aku tak bisa melihatmu dengan jelas, ini pengaruh obat untuk penyakitku, mataku memang sedikit kabur tapi masih bisa disembuhkan, sebulan lagi aku akan bisa melihat dengan jelas” jelasnya sambil tersenyum lembut.

Ia mengira aku Sasuke. Aku harus mengatakan itu, tapi rasanya aku tak bisa, tenggorokanku seperti tercekat, aku terpesona oleh mata birunya yang sangat jernih itu. Ia tersenyum lagi. “Lama tak berjumpa ya, Sasuke senpai. Sejak senpai lulus kuliah, kurasa sudah setahun lebih”. Senyumnya terlihat sedih kali ini.

“Kenapa kau disini?” tanyaku akhirnya. Ia terlihat sedikit bingung, ia mendekatkan kepalanya padaku. “Maaf, aku tak bisa mendengar dengan jelas suara senpai, bisa dikeraskan sedikit?” tanyanya. Aku menelan ludah, sedikit aneh aku harus mengulang pertanyaan itu. “Kenapa kau disini?” tanyaku lagi dengan volume yang lebih tinggi. Ia tersenyum lalu berkata “Aku harus mengalami terapi pada mataku karena kecelakaan”.

“Kecelakaan?” ia mengangguk, “Aku kecelakaan 2 minggu yang lalu dan penglihatanku terkena imbasnya, sehingga perlu disembuhkan, tapi jangan khawatir karena ini tidak akan lama... sebulan lagi aku bisa melihat!” ucapnya senang. Setelah itu, aku tak lagi ingat apa aku bicarakan dan hanya kemudian pamit padanya tanpa menyentuh kata bahwa aku bukan Sasuke yang kau kenal....

...
Keesokan harinya aku kembali ke rumah sakit ini. Entah kenapa aku jadi seperti ini, begitu pula hari-hari selanjutnya. Hampir tak pernah aku melewatkan satu hari tanpa mengunjungi gadis itu. Dari Asuma-sensei aku tahu namanya adalah Namikaze Naruko. Matanya sudah beransur-ansur membaik, namun ia harus menggunakan perban untuk matanya agar keadaannya tidak semakin memburuk.

Dan hari ini untuk kesekian kalinya aku berada di kamarnya untuk mengunjunginya. Kadang, Asuma-sensei sering mengejekku karena aku tidak melakukan ‘hibernasiku’ dan aku tidak terlihat bosan. Ia bilang sungguh langka melihat orang sepertiku mau mengurusi hal-hal yang ‘menyusahkan’ seperti ini. Apalagi gadis itu masih mengira aku adalah ‘Sasuke’ yang dikenalnya.

Sepanjang perbincangan kami akhir-akhir ini, aku jadi tahu bahwa Sasuke adalah salah satu seniornya di universitas seni tempatnya belajar sekarang –meski ia sedang cuti karena sakit- ia sering membicarakan masa-masa dulu saat ia bersama Sasuke.

“Aku senang Sasuke-senpai masih mengenaliku...”katanya sambil setengah berbisik, aku masih bisa mendengarnya. Mengenal? Bukannya ia sangat mengenal Sasuke? Ia tiap hari membicarakan kegiatan Sasuke dan menjelaskan semuanya panjang lebar. Saat Sasuke menjadi juara di lomba menggambar dan saat ia menjadi MVP di kompetisi olahraga di kampusnya.

“Naruko, kukupaskan apel ya” kataku sambil mengambil buah apel di keranjang. Namun ada yang aneh, ia tak menjawab. “Naruko?” tanyaku lagi. Ia tetap tidak bergeming, kuperhatikan wajahnya, ia seperti tidak mendengarku. “Naruko?” tanyaku lagi dengan volume yang lebih keras dan mendekatkan sedikit wajahku. Ia tersentak “Ya?” tanyanya.

Aku tercengang sesaat. Ia benar-benar tak mendengarku...

...
Aku sedang menyiapkan air panas untuk membuat teh hangat. Aku meletakkan teko di atas kompor listrik yang ada di kamar Naruko dan menyalakannya, kamar miliknya ini memang spesial, VIP room, sepertinya ia dari keluarga berada. Semua perlengkapan yang diperlukannya ada di dalam ruangan. Aku berjalan menuju tempat tidurnya. Kudekatkan kepalaku agar ia bisa ‘mendengarku’ “Naruko, ini remote untuk kompor itu, kalo tekonya sudah berbunyi, tekan tombol ini, okey? Aku mau bertemu dengan dokter Asuma dulu” jelasku sambil menyerahkan remote dan mengarahkan tangannya pada remote itu agar ia tahu letaknya. Kusengaja menyebut Asuma-sensei dengan sebutan ‘dokter’ karena tak mungkin mahasiswa seni seperti Sasuke akan menyebut seorang dokter sebagai ‘senseinya’. Ia mengangguk mengerti. Aku berjalan keluar ruangan dan menuju ruang Asuma-sensei.

“Bagaimana keadaannya sensei?” tanyaku pada pria perokok didepanku ini. “Matanya sudah lebih baik, sekitar 3 hari ke depan ia sudah bisa melepas perbannya, penglihatannya sudah baik” jelasnya. Aku mengangguk mengerti, kemudian aku teringat sesuatu dan kembali bertanya pada Asuma-sensei.

“Sensei, akhir-akhir ini aku harus mengeraskan volume suaraku untuk berbicara dengannya, apa pendengarannya tidak apa-apa?”tanyaku. Dokter di depanku ini hanya mendesah pelan, ia lalu menatap lurus padaku. “Shikamaru, sebenarnya itulah yang jadi masalah sekarang, pendengarannya juga terkena imbas karena kecelakaan itu, dan ia terancam tuli...” aku tersentak mendengar itu.

“Jika keadaannya tidak membaik dalam 3 hari ini... bisa dipastikan ia akan tuli selamanya, rumah sakit ini sudah tak bisa membantu banyak..” katanya lagi.
...
Aku berjalan menuju kamar Naruko lagi. Aku masih memikirkan kata-kata Asuma-sensei tadi, dia akan menjadi tuli? Lalu bagaimana dengan dunianya? Dunia yang sunyi itu menyeramkan... karena kesendirianlah yang terasa. Aku tergiang kata-kata Asuma-sensei saat aku mengatakan bahwa kesunyian itu berteman dengan kesendirian.

Untuk itulah kau disana bukan? Untuk memberitahukannya bahwa ia tak pernah sendiri, berusahalah Shikamaru. Aku percaya, kalau kau, pasti bisa.

Benarkah? Benarkah aku bisa? Padahal ia bahkan tidak mengenalku yang sebenarnya, ia tak tahu namaku, ia mengira aku adalah Sasuke...

Aku mendengar suara yang agak berisik begitu masuk ke ruangan Naruko dan menyadari suara itu berasal dari teko yang telah mendidih dari tadi. Aku menengok ke arah Naruko. Ia tidak sadar sama sekali. Ia tak mendengarnya?. Dengan segera aku melangkah ke arah kompor listrik dan mematikannya. Aku menoleh ke arahnya, ia tetap memegang remote pengontrol kompor listrik jarak jauh itu. Bahkan, sepertinya kehadirankupun tidak disadarinya. Aku berjalan menuju tempat tidurnya.

“Naruko?” panggilku dengan volume yang tinggi dan kepalaku yang kudekatkan padanya. Ia menoleh ke arah suara. “kau sudah kembali?”. Aku terdiam melihatnya, separah itukah?.

“Naruko, kau tidak dengar bunyi teko itu?” tanyaku. Ia tersentak dan menggeleng. “Ti..tidak...”ucapnya, wajahnya menampakkan ketakutan yang sangat.

...
“The world is getting quiter” ia tiba-tiba berucap itu saat aku berada bersamanya 2 hari sebelum ia akan membuka perban di matanya. Aku terdiam mendengar kata-katanya. Mungkin itulah yang dirasakannya. Aku bangkit dari sofa dan meletakkan buku –kedokteran- yang sedang kubaca. Lalu berjalan ke arah tempat tidurnya.

“Kenapa?” tanyaku sambil meraih kursi di dekatnya dan duduk, serta memastikan bahwa jarak kami dapat membuatnya ‘mendengarku’. Ia menggelengkan kepalanya. “tidak, aku hanya merasa dunia ini semakin sunyi, aku... merasa sendiri...”ucapnya pelan. Aku mendesah, melihat wajahnya yang suram membuatku merasa sakit. Ia tak pantas merasakan penderitaan yang seperti ini. “aku... takut... aku takut sendiri... kadang aku berusaha mencari suara apa saja yang dapat membuatku merasa nyaman... membuatku merasa bahwa dunia tidaklah sesunyi yang kurasakan...” katanya. Ia terlihat gemetar.

Seberat itukah penderitaanmu? Sebegitu takutkah kau merasa sendiri?

Aku meraih tangannya dan menggenggamnya erat. “Dunia tak benar-benar sunyi naruko, aku bisa memastikan itu”.

Ia terdiam , ia balas menggenggam tanganku. “Jika suatu saat kau tak bisa lagi mendengar suaraku, maka percayalah bahwa aku ada disini, di sisimu selalu. Aku akan menjadi telingamu untuk mendengar suara-suara indah dalam kensunyianmu. Akan kunyanyikan lagu sunyiku untukmu. Dan yakinlah, kau pasti akan mendengarnya” ia terdiam lalu kulihat pundaknya bergetar, ia menangis...

“Kau tidak pernah benar-benar sendiri... tidak akan pernah... dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi... bukan karena aku kasihan, tapi karena aku ingin kau tahu, kau gadis kuat dan akan terus percaya bahwa dirimu sanggup melewati ini semua, kau punya banyak orang yang mencintaimu, kau punya aku...” ucapku lagi. Ia menangis tanpa airmata....
 
End of Flashback
.
.
Hari ini adalah hari dimana perban matanya akan dilepas. Ia akan bisa melihat lagi. Dan aku terlalu takut untuk menemuinya. Kulirik jam di meja dekat tempat tidurku. Pukul 9.30 pagi. Perbannya akan dibuka jam 10 pagi, setengah jam lagi. Aku duduk sambil memeluk lututku. Aku takut, aku takut ia tahu siapa aku dan ia akan kecewa kemudian tak mau mengenalku lagi. Aku ingin ke sana. Tapi aku tak punya cukup keberanian.

Sebuah nada melantun, handphoneku berbunyi, panggilan dari Asuma-sensei. Kuangkat telepon itu.

“Halo?” tanyaku. “Shikamaru! Dimana kau? Setengah jam lagi perban Naruko dilepas!” ucap suara diseberang sana. Aku mendesah pelan. “Ia tidak membutuhkanku, ia membutuhkan ‘Sasuke’ bukan aku. Selama ini ia mengira aku adalah Sasuke, 2 hari yang lalu aku mencari alamat pemuda itu dan menyampaikan semuanya. Aku memohon agar ia datang dan menemaninya...” ucapku. Sesaat kemudian kami berdua diam. Kudengar ia mendesah.

“Kau tidak akan tahu bagaimana hasilnya kecuali kau menemuinya bukan? Lagipula, yang selama ini bersamanya dan memberinya semangat bukan ‘Sasuke’ tapi ‘Shikamaru’ bukan? Kenapa tidak kau ulang saja perkenalan kalian? Ia pasti mengerti, ia pasti merasakan kehangatan sayangmu padanya, nah aku tunggu kau” KLIK! Asuma-sensei menutup telepon.

Aku tahu Asuma-sensei benar, tapi aku masih terlalu takut. Lagipula, Sasuke itu pasti sudah ada disana. Ia janji akan datang... selama ini aku yang menemaninya, dan Sasuke itu yang akan bersamanya kelak... tak adil... ia bahkan tak pernah tahu aku ada... kurasakan airmataku bergulir...

Kemudian dengan segera aku bangkit dari tempat tidurku dan menuju kamar mandi. Ya, bagaimanapun juga aku ingin dia tahu aku ada. Bukan ‘Sasuke’ tapi ‘Shikamaru’. Setidaknya kami bisa mengulang pertemuan kami.

...
Aku berlari menyusuri koridor, entah kenapa koridor ini rasanya panjang sekali hari ini. Kulirik jam tanganku, pukul 11 pagi. Sudah lebih dari satu jam. Tak kusangka hari ini sangat macet, aku harus berada di jalan selama 1 jam. Aku berlari lebih cepat, aku ingin bertemu dengannya. Dua hari tak bertemu dengannya benar-benar membuatku hampir gila.

Aku berdiri di depan sebuah kamar, kamar yang biasa dimana aku bertemu dengannya. Kuatur nafasku, aku kelelahan karena berlari, namun aku tak peduli, aku hanya butuh bertemu dengannya. Kubuka pintu kamar itu. Dan mendapatinya sedang duduk di tempat tidur tanpa perban, Asuma-sensei di dekatnya dan ada dua orang asing di depannya. Seorang pemuda dengan rambut hitam dan seorang gadis berambut pink. Mereka berdua tersenyum.

Aku mengenali pemuda itu, ia adalah ‘Sasuke’ yang sebenarnya. Lalu siapa gadis itu?

Pemuda itu tersenyum padaku dan keduanya berjalan ke arahku. “Kenalkan dia Haruno Sakura, tunanganku,” katanya sambil memperkenalkan gadis berambut pink itu. “Senang bertemu dengan anda, dan terima kasih sudah memberitahukan tentang ini pada kami, aku senang bisa bertemu dengan Naruko-chan lagi”katanya. Lalu mereka berdua menoleh ke arah Naruko. “Kami pamit dulu, Naruko-chan” dengan volume suara yang ‘agak’ tinggi lalu membungkuk padaku dan keluar ruangan.

Asuma-sensei kemudian menatapku sambil tersenyum lalu berjalan ke arahku. Sebelum keluar kamar, ia menepuk pundakku dan berkata “ berjuanglah!”

Sekarang tinggal kami berdua di dalam kamar itu. Aku menatapnya dan ia juga menatapku sambil tersenyum. Aku melangkahkan kakiku menuju tempat tidurnya, meski berat, aku berusaha untuk berjalan ke arahnya.

 “Ohayou!” sapanya. Ia tersenyum lebar.

Ia kemudian menunduk, menatap tangannya “Pemuda itu, adalah orang aku sukai dulu, sejak kuliah, meski ia sudah punya pacar, aku tetap menyukainya. Sakura-chan adalah senpai dan sahabatku, mereka adalah pasangan paling serasi di kampus, aku iri, namun aku juga kagum dan berharap suatu saat aku akan bisa menemukan pasangan seperti Sakura-chan dengan Sasuke-senpai. Aku tak begitu mengenal Sasuke-senpai, aku hanya menatapnya dari jauh dulu dan mendengar semua ceritanya dari Sakura-chan. Makanya aku tahu semua yang dia lakukan” dia berhenti bicara dan menatap wajahku.

“Kupikir aku takkan pernah bisa menemukan... seseorang... hingga sebulan lalu aku awalnya salah mengenali seseorang, tapi kemudian aku tahu bahwa dia bukan orang yang kusukai. Tapi orang itu tidak mau mengatakan bahwa dia bukan orang yang kumaksud. Lalu dengan semua kelembutannya, ia mengajarkan bahwa bukan Cuma suara yang menjadikan dunia ini indah, tapi ada warna, sentuhan dan cinta yang dapat dirasakan dengan hati... aku menemukannya... tapi ia menghilang sebelum aku memberitahukan betapa berartinya ia... ia tak ada di sampingku saat perbanku dibuka, padahal biasanya dia selalu ada di sampingku, aku bisa merasakan dia ada. Bersamanya hidupku penuh suara.... aku membutuhkannya....bisakah kau beritahu aku dimana dia?... bisakah kau memberitahuku siapa dia?” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Aku menutup mataku, membiarkan airmata jatuh di pipiku. Lalu membuka mataku lagi dan menatapnya. “Perkenalkan ... namaku Nara Shikamaru... dan kau?” tanyaku sambil menyodorkan tanganku. Ia menatapku sebentar kemudian tersenyum “Aku Namikaze Naruko, senang berkenalan dengan anda... Shikamaru-kun..” ucapnya sambil menjabat tanganku.

“Maaf atas kesan pertama yang buruk sebelumnya, bisakah kita mulai dari awal lagi semuanya?” tanyaku.
Ia mengangguk, airmatanya jatuh perlahan dipipinya. “Iya...” aku memeluknya dan berbisik ditelinganya. “Sampaikah? Hatiku saat ini dipenuhi olehmu...” ucapku. Ia hanya mempererat pelukannya dan menangis padaku.

....
Dunia tak pernah benar-benar sunyi ....

Written by :
Dhiee (also published in FFn as TakonYaki)

Welcome Abroad!!

This is the first post...
I am trying to make a blog full of story .. my new story or the rewrite story...
.
.
It just the beginning,
The first step closer to the dream of life,
The unspoken stories,
The lost and written stories,
.
.
Watch your back ^_^