Kau iri.
Seperti halnya semua orang. Seperti halnya semua gadis yang biasanya terlihat begitu penuh percaya diri dan menganggap diri mereka adalah yang terbaik.
Seperti halnya gadis-gadis pesolek yang selalu menampilkan wajah terbaiknya dengan make-up ala gadis Jepang atau Korea yang sekarang ini tengah populer atau yang tetap bertahan dengan gaya penyanyi R & B barat sana lengkap dengan berbagai tindik di wajahnya.
Atau seperti gadis-gadis yang namanya selalu terucap dengan nada penuh kebanggaan dari bibir para guru di sekolahmu atau orangtua murid lain.
Kau iri.
Mereka iri.
Aku iri.
Hidup ini dipenuhi dengan rasa iri jika kau tak membuka matamu lebih lebar.
Selalu ada alasan dari semua rasa iri tersebut.
Seperti rasa irimu pada sahabatmu yang cantik dan anggun dengan tingkahnya yang lemah gemulai yang selalu mendapatkan semua perhatian lawan jenis yang kau taksir. Atau rasa iri para pesolek pada gadis pintar yang selalu dipuji kecerdasannya. Atau para gadis pintar namun kutu buku itu yang selalu iri pada keberanian para gadis pesolek untuk tampak berbeda dari yang lainnya.
Kau iri.
Mereka iri.
Bahkan sahabatmu sendiri pun iri padamu.
Menurutnya kau adalah gadis ceria yang selalu membuat orang lain kangen padamu. Selalu mencerahkan suasana. Membuat semua orang bersemangat kala mendapati kau berada di sampingnya.
Iya--
Iri.
Alasan utamanya?
Kau tak melihat apa yang dia lihat. Dan dia tak melihat apa yang kau lihat.
Seperti halnya asinan plum yang ada di belakang onigiri (makanan khas Jepang). Semua yang kau tak lihat ada di punggungmu. Dan semua orang melihatnya, membuat mereka khawatir karena mereka merasa tak memiliki apa yang ada padamu. Padahal tanpa kau sadari, kau pun memilikinya.
Atau seperti halnya rumput tetangga yang selalu tampak lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Begitu.
木曜日, 9月 15, 2011
火曜日, 9月 13, 2011
Aku--Perjalanan menjari jati diri.
Part I : Siapa? Aku?
Siapa kau?
“Siapa? Aku?”
Ya, kamu.
“Aku adalah namaku.”
Hm, bukan. Itu bukan kau. Itu hanyalah sebuah nama. Yang aku tanyakan adalah kamu siapa?
“Kalau pertanyaannya seperti itu… Entah, kau tahu siapa aku?”
Kau. Hanya kau sendiri yang tahu soal itu. Hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya.
.
.
Aku menutup mata. Mencoba mencerna apa saja yang baru Aku alami. Rasanya Aku sudah letih berjalan di jalan yang sama. Tak ada yang bisa diamati. Semuanya terasa membosankan. Hanya seperti itu saja. Hitam dan putih.
Lalu samar-samar Aku mendengar suara—seperti gemericik air.
Ah, akhirnya. Pikir Aku.
Setidaknya Aku bisa beristirahat sejenak sembari menikmati air segar yang mungkin bisa kudapatkan. Maka, Aku mempercepat langkah. Dan suara gemericik itu semakin terdengar—jelas. Sangat jelas.
Dan Aku berhenti. Berhenti tepat di depan sebuah danau yang airnya mengalir jernih dan dari sudut kanan ada air yang jatuh—mengalir turun dari atas sana. Sumber gemericik air itu rupanya.
Aku mendekati danau. Berjongkok di depannya, dapat terlihat pantulan wajah Aku di sana. Tangan Aku menggapai, ingin mengambil sedikit rasa segar dari aliran yang jernih itu. Namun, tangan Aku terhenti. Ada yang menghalangi.
Tidak boleh. katamu.
Lalu Aku bertanya kenapa. Bukankah danau ini Tuhan yang punya? Semua bisa mengambilnya. Lihat saja sekeliling. Beberapa orang memang kini terlihat melakukan hal yang sama dengan Aku.
Kamu menggeleng. Tersenyum lembut sembari menatap Aku.
Siapa kamu?
“Aku? Aku adalah namaku,” jawabku.
Bukan. Bukan itu jawabannya.
“Lalu?” Tanya Aku tak mengerti. Apa hubungannya danau itu dengan siapa diriku? Semua orang tampak sama dan kenapa kamu harus bertanya tentang siapa diriku.
Danau ini hanya untuk mereka yang mengenal dirinya. Mereka yang bisa menjawab ketika dia ditanya siapa dirinya.
Aku memiringkan kepala sedikit. Masih tak mengerti.
Danau ini adalah danau yang akan memberikan warna dan kesegaran dalam perjalanan hidup semua orang. Dan hanya orang yang bisa menjawab pertanyaan itu lah yang bisa menikmatinya.
“Itu aneh, karena pertanyaan itu juga aneh.”
Kamu tertawa pelan tanpa ada kesan mengejek. Tawa lembut tentunya.
Jawabannya ada. Hanya kamu yang belum menemukannya. Kamu memandang sekeliling. Menunjuk pada beberapa orang yang meneguk kesegaran air danau yang jernih. Mereka. Tunjukmu pada orang-orang itu. Menemukan jawabannya setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga.
“…Begitu?”
Kamu mengangguk.
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Aku lagi.
Hati. Tengok hatimu. Tanyakan padanya apa yang bisa kau lakukan. Kalau kau tak menemukan jawabannya. Maka dunia yang kau jalani hanyalah hitam dan putih. Bukankah itu membosankan?
Aku mengangguk—membenarkan.
Kan? Jadi berusahalah.
.
.
Aku membuka mata. Menatap jernih langit-langit kamarku. Pikiran Aku penuh dengan banyak hal.
Banyak hal yang harus dilakukan.
Harus dikerjakan.
Harus dipecahkan.
Kutahu semua itu hanyalah awal.
Lalu kembali pertanyaan itu terngiang.
Siapa kau?
Aku... Aku siapa? Aku mau apa? Apa yang kuinginkan dalam hidup?
Banyak.
Terlalu banyak.
Dan sepertinya aku menghabiskan terlalu banyak waktu dengan sia-sia.
…
Holy shit.
Aku punya banyak yang harus dikerjakan.
登録:
投稿 (Atom)
