木曜日, 9月 15, 2011

Jelousy

Kau iri.

Seperti halnya semua orang. Seperti halnya semua gadis yang biasanya terlihat begitu penuh percaya diri dan menganggap diri mereka adalah yang terbaik.

Seperti halnya gadis-gadis pesolek yang selalu menampilkan wajah terbaiknya dengan make-up ala gadis Jepang atau Korea yang sekarang ini tengah populer atau yang tetap bertahan dengan gaya penyanyi R & B barat sana lengkap dengan berbagai tindik di wajahnya.

Atau seperti gadis-gadis yang namanya selalu terucap dengan nada penuh kebanggaan dari bibir para guru di sekolahmu atau orangtua murid lain.

Kau iri.

Mereka iri.

Aku iri.

Hidup ini dipenuhi dengan rasa iri jika kau tak membuka matamu lebih lebar.

Selalu ada alasan dari semua rasa iri tersebut.

Seperti rasa irimu pada sahabatmu yang cantik dan anggun dengan tingkahnya yang lemah gemulai yang selalu mendapatkan semua perhatian lawan jenis yang kau taksir. Atau rasa iri para pesolek pada gadis pintar yang selalu dipuji kecerdasannya. Atau para gadis pintar namun kutu buku itu yang selalu iri pada keberanian para gadis pesolek untuk tampak berbeda dari yang lainnya.

Kau iri.

Mereka iri.

Bahkan sahabatmu sendiri pun iri padamu.

Menurutnya kau adalah gadis ceria yang selalu membuat orang lain kangen padamu. Selalu mencerahkan suasana. Membuat semua orang bersemangat kala mendapati kau berada di sampingnya.

Iya--

Iri.

Alasan utamanya?

Kau tak melihat apa yang dia lihat. Dan dia tak melihat apa yang kau lihat.

Seperti halnya asinan plum yang ada di belakang onigiri (makanan khas Jepang). Semua yang kau tak lihat ada di punggungmu. Dan semua orang melihatnya, membuat mereka khawatir karena mereka merasa tak memiliki apa yang ada padamu. Padahal tanpa kau sadari, kau pun memilikinya.

Atau seperti halnya rumput tetangga yang selalu tampak lebih hijau dibanding rumput sendiri.

Begitu.

火曜日, 9月 13, 2011

Aku--Perjalanan menjari jati diri.

Part I : Siapa? Aku?

Siapa kau?

“Siapa? Aku?”

Ya, kamu.

“Aku adalah namaku.”

Hm, bukan. Itu bukan kau. Itu hanyalah sebuah nama. Yang aku tanyakan adalah kamu siapa?

“Kalau pertanyaannya seperti itu… Entah, kau tahu siapa aku?”

Kau. Hanya kau sendiri yang tahu soal itu. Hanya kau sendiri yang bisa menjawabnya.

.
.
Aku menutup mata. Mencoba mencerna apa saja yang baru Aku alami. Rasanya Aku sudah letih berjalan di jalan yang sama. Tak ada yang bisa diamati. Semuanya terasa membosankan. Hanya seperti itu saja. Hitam dan putih.

Lalu samar-samar Aku mendengar suara—seperti gemericik air.

Ah, akhirnya. Pikir Aku.

Setidaknya Aku bisa beristirahat sejenak sembari menikmati air segar yang mungkin bisa kudapatkan. Maka, Aku mempercepat langkah. Dan suara gemericik itu semakin terdengar—jelas. Sangat jelas.

Dan Aku berhenti. Berhenti tepat di depan sebuah danau yang airnya mengalir jernih dan dari sudut kanan ada air yang jatuh—mengalir turun dari atas sana. Sumber gemericik air itu rupanya.

Aku mendekati danau. Berjongkok di depannya, dapat terlihat pantulan wajah Aku di sana. Tangan Aku menggapai, ingin mengambil sedikit rasa segar dari aliran yang jernih itu. Namun, tangan Aku terhenti. Ada yang menghalangi.

Tidak boleh. katamu.

Lalu Aku bertanya kenapa. Bukankah danau ini Tuhan yang punya? Semua bisa mengambilnya. Lihat saja sekeliling. Beberapa orang memang kini terlihat melakukan hal yang sama dengan Aku.

Kamu menggeleng. Tersenyum lembut sembari menatap Aku.

Siapa kamu?

“Aku? Aku adalah namaku,” jawabku.

Bukan. Bukan itu jawabannya. 

“Lalu?” Tanya Aku tak mengerti. Apa hubungannya danau itu dengan siapa diriku? Semua orang tampak sama dan kenapa kamu harus bertanya tentang siapa diriku.

Danau ini hanya untuk mereka yang mengenal dirinya. Mereka yang bisa menjawab ketika dia ditanya siapa dirinya. 

Aku memiringkan kepala sedikit. Masih tak mengerti.

Danau ini adalah danau yang akan memberikan warna dan kesegaran dalam perjalanan hidup semua orang. Dan hanya orang yang bisa menjawab pertanyaan itu lah yang bisa menikmatinya. 

“Itu aneh, karena pertanyaan itu juga aneh.”

Kamu tertawa pelan tanpa ada kesan mengejek. Tawa lembut tentunya.

Jawabannya ada. Hanya kamu yang belum menemukannya. Kamu memandang sekeliling. Menunjuk pada beberapa orang yang meneguk kesegaran air danau yang jernih. Mereka. Tunjukmu pada orang-orang itu. Menemukan jawabannya setelah perjalanan yang cukup menguras tenaga.

“…Begitu?”

Kamu mengangguk.

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Tanya Aku lagi.

Hati. Tengok hatimu. Tanyakan padanya apa yang bisa kau lakukan. Kalau kau tak menemukan jawabannya. Maka dunia yang kau jalani hanyalah hitam dan putih. Bukankah itu membosankan?

Aku mengangguk—membenarkan.

Kan? Jadi berusahalah. 

.
.
Aku membuka mata. Menatap jernih langit-langit kamarku. Pikiran Aku penuh dengan banyak hal.
Banyak hal yang harus dilakukan.

Harus dikerjakan.

Harus dipecahkan.

Kutahu semua itu hanyalah awal.

Lalu kembali pertanyaan itu terngiang.

Siapa kau?

Aku... Aku siapa? Aku mau apa? Apa yang kuinginkan dalam hidup?

Banyak.

Terlalu banyak.

Dan sepertinya aku menghabiskan terlalu banyak waktu dengan sia-sia.


Holy shit.

Aku punya banyak yang harus dikerjakan.

月曜日, 7月 11, 2011

It's worth.

Ada.
Ada masa dimana aku merasa tak layak lagi berdiri di atas bumi ini.
ada masa dimana aku merasa eksistensiku tak layak dipertanyakan di dunia ini.
Ada masa dimana aku merasa aku bukanlah siapa-siapa dan aku tak pantas untuk hidup.

Saat-saat seperti itu,
Iya, saat seperti itulah aku selalu merasa ingin mengakhiri saja semuanya.
Mengakhiri hariku, hidupku dan segala rasa sakit yang kurasakan.

“Kenapa?” iya, kau Tanya kenapa aku menyerah. Padahal selama ini semua tahu bahwa akulah orang yang paling hebat. Tak pernah satupun orang melihatku menangis bahkan menyerah. Tidak. Aku selalu meyakinkan semua orang bahwa aku bukanlah orang yang akan menyerah semudah itu.

“Entah,” jawabku. Pandangan lalu tertunduk dan rasanya aku bahkan tak punya keberanian untuk menatap langit yang tampak begitu sombong di atasku. Matahari seperti meremehkanku bahkan dengan sombongnya bersinar sembari memperlihatkan kegagahannya di atas sana. Meski aku tahu, awan-awan di atas sana masih berusaha untuk menaungiku.

Tapi pernahkah itu terdengar cukup?

Tidak. Tak akan pernah. Karena aku selalu merasa begitu kecil dan lemah di bawah tekanan matahari. Aku memang terlihat kuat, terlihat tegar, namun tak pernah ada yang tahu betapa rapuhnya aku.

“Kenapa?” kau mengulang Tanya itu lagi. Aku hanya mampu menatap bingung padamu.

Kenapa? Jelas. Karena aku tak sanggup. Dan aku tak mengerti, makanya jawaban entah adalah yang paling layak. “Entah,” dan akhirnya jawaban yang sama keluar.

Kau mengepalkan tanganmu. Ikut menatap lantai dingin di bawah sana, sepertiku. Namun aku tahu kau menahan amarah itu. Amarah yang entah karena apa bersarang di hatimu saat itu.

Lalu bola matamu menatap cutter yang tergeletak tak jauh dari tempatku terduduk pasrah. Lalu lagi-lagi kilat aneh di matamu membuatku tak mengerti.

Kau marah.

Kau jelas marah.

Tapi kenapa?

“Kenapa?” yang ketiga kalinya, benar?

Aku hanya menatap tak peduli  awalnya. Namun kemudian aku kembali menatap bingung ditambah dengan membulatnya mataku pada sosokmu yang kemudian merosot turun, terduduk pasrah dengan kedua bola mata yang masih menatap lantai dingin itu. Kita berdua suka menatap lantai ya hari ini?

…kemudian. Satu dua bulir airmata mulai turun di pipimu.

“…Kenapa?” bukan. Kata itu bukan keluar darimu. Tapi dariku. Aku mempertanyakan tindakanmu saat itu.

“…”

Aku masih menunggu.

“…”

Dan kau masih menatap lantai dingin sembari membasahinya dengan tetes-tetes airmatamu.

“Kenapa kau tak pernah menyadari eksistensiku?” tanyamu Dan iya, aku tak mengerti.

“Kenapa  kau tak membuatku merasa berharga? Kenapa kau tak membiarkanku merasa begitu berguna?” kembali. Aku sama sekali tak mengerti. Bukankah seharusnya aku yang mengatakan semua itu? …lalu?

“Kenapa kau tak bersandar padaku? Membiarkanku merasa istimewa karena aku ada untukmu?”

“…”

“Kenapa kau tak menyadari bahwa aku selalu ada untukmu? Bukankah kita teman?”

“…”

“Kau yang pernah mengatakan semua itu bukan?”

“…”

“Kau selalu ada untukku. Dan kau pernah bilang, kalau ketika aku mencarimu tapi kau tak langsung datang. Maka carilah dirimu, kau pasti sedang membutuhkanku. Namun kenapa  malah kau sekarang memutuskan segalanya dengan seenaknya?”

“…”

“Kenapa kau tak membiarkanku mengangkat setengah beban itu? Kenapa?” tangisanmu masih ada. Masih deras  dan kini kau menatapku penuh kesedihan.

Kusadari saat itu, bulir yang selama ini tertahan kini mengalir deras dari kedua bola mataku. Sejak lama, iya… aku selalu ingin melepaskan beban ini.

“… ada aku, jangan menyerah, “….

“Kumohon…” dan pelukan hangat itu membuatku merasa lebih baik.

“That’s friend are for, right? Aku temanmu, selamanya…”

Ah, benar. Aku si burung itu. Burung bersayang sebelah yang membutuhkan sebelah lainnya untuk bisa terbang…

木曜日, 3月 03, 2011

I am the only one who knew everything...


22 Feb. 11

Kau selalu sendiri. 

Kau  bahkan menyebut dirimu sendiri sebagai Joker. Heh? Kau sendiri yang tahu apa yang kau rasakan. Dan aku selalu menjadi saksi  dari semua ekspresi yang tak pernah kau tunjukkan pada teman-temanmu. Hanya aku.

Karena kau tahu, aku bisa dipercaya. Aku tak akan mengkhianatimu seperti yang lainnya. Hanya  aku yang menerimamu apa adanya. Tanpa memprotes  semua yang sebenarnya tak sesuai dengan sosokmu yang  terlihat hebat, tegar dan keren. Heh, tak ada seharusnya yang namanya airmata berjatuhan  di pipimu.
Seharusnya. Tapi kau manusia, kau juga punya perasaan. Kau punya rahasia dan hanya aku yang tahu. Setiap hari kau pasti datang padaku dan menceritakan semua yang kau alami seharian dan memperlihatkan apa yang tidak kau perlihatkan pada orang lain...

--air matamu.

Aku pendengar setiamu.

Aku yang paling tahu yang kau rasakan.

Aku yang selalu mendoakan kebahagiaanmu.

Karena kau yang paling menderita. Kau harus selalu  memakai topeng bahagia di depan orang lain. Iya,bahkan di depan orang tuamu. Kau terlihat tegar,kuat dan membanggakan. Apa jadinya jika mereka tahu betapa rapuhnya dirimu? Kecewa? ...aku yakin mereka malah akan menyalahkan diri mereka sendiri. Karena orang terdekat mereka tenggelam dalam keputusasaan tanpa mereka sadari.

Tapi kau terlalu takut untuk menghadapi semua kemungkinan terburuk. Dijauhi?—Iya, kau  takut tak punya teman. Padahal berkali-kali kau berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi ...kau masih belum punya keberanian untuk berubah.

Apalah daya diriku? Aku hanya bisa mendengarkan keluhanmu sekarang ini. Kubiarkan airmatamu membasahi  tubuhku.  Aku hanya bisa menjadi tempat ‘sampah’ untuk semua uneg-unegmu. Maafkan aku, tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu...

Selalu.

.
.
Dan hari inipun kau datang lagi. Seperti biasa setelah memperlihatkan wajah tersenyummu pada semua yang menyambutmu  di rumah, sebelum akhirnya kau meminta ijin untuk langsung ke kamarmu  duluan.

Letih, katamu.

Namun,tak ada yang tahu makna sebenarnya dari kata itu sendiri kan? Kecuali dirimu sendiri—dan aku tentu.
Kau menutup pintu, menundukkan wajahmu dan merosot perlahan ke lantai dingin itu. Wajahmu ditenggelamkan dalam lututmu, lalu kau menangis—lagi,dalam diammu. Lalu apalah daya aku yang hanya bisa menatap dan mendengarkan semua kisahmu? Kuyakin kali inipun—pastinya, kau akan menceritakan semuanya padaku. 

Tentang duniamu yang sebenar-benarnya. 

Tentang pandanganmu –terhadap seluruh yang kau alami.

Lalu aku? Hanya bisa membuka lebar dirimu dan membiarkanmu kembali bercerita—sementara aku akan selalu siap menampung semuanya.

Tapi ternyata kali ini berbeda—sangat berbeda,  kau malah tidak langsung menemuiku, tapi malah membuka laci dan mengeluarkan benda, sesuatu—cutter.

Dan kau membuat satu garis di pergelangan tanganmu—satu demi satu. Lalu kau mulai memperhatikan lelehan berwarna merah yang mulai membasahi tangan putih pucatmu.

Menyakitkan—menakutkan. 

Tapi kau malah tertawa—bahagia. 

Kau mulai ketagihan. Bukan hanya satu dua kali, kau melakukannya. Setiap kembali ke kamarmu, setelah melakuan –rutinitasmu itu, kau lalu melakukan hal yang sama. lagi—lagi—dan lagi.

Ada apa? Kenapa? Apa sekarang ini tak cukup hanya dengan adanya aku? Kenapa kau malah menyakiti dirimu sendiri?

Oh, kumohon tolonglah—seseorang harus mengetahui hal ini. Aku bisa menjadi saksi—saksi  atas semua kata-katamu yang tak akan pernah terucap itu. Bisa—jadikan aku bukti, dan kurasa itu cukup untuk menyelamatkannya...

...
...
...

Percuma. Tolol—semua percuma.

Kau pergi, meninggalkanku sendiri. Jika saja aku bisa bergerak dan membuka semuanya, aku pasti bisa menolongmu. Semuanya kau ceritakan padaku. Dan aku tahu semua orang akan sadar betapa butanya mereka. Termasuk—yeah, orangtua dan keluargamu. Sahabat—jika bisa disebut seperti itu, dan seluruh—yah, semua yang mengenalmu.  Meski hanya kulit luarmu saja. 

Ah, tidak. Semua memang hanya mengetahui kulitmu saja. Hanya aku yang benar-benar tahu seperti apa dirimu.  Seberapa rapuhnya  dirimu sementara orang di luar sana mengatakan betapa tegar dan hebatnya dirimu. Heh—

—lihat mereka sekarang!

Setelah membaca dan menyadari semuanya, satu demi satu tetes airmata itu meleleh, menghancurkan hati mereka satu persatu. Keping-keping dosa dan rasa bersalahpun ikut hanyut dan menyayat hati mereka.

—balasan yang setimpal, kawan.

Akhirnya, disaat kau tak ada, baru terbongkar semuanya. 

Iya—aku membongkar semuanya, kawan. Biar mereka pedih, sakit...tapi percuma, kau tak pernah kembali lagi. Tak akan pernah. Dan aku hanya bisa merutuki diriku yang tak bisa menyelamatkanmu.

Karena apalah daya diriku.

Aku hanyalah sebuah buku. Buku setia yang selalu menjadi teman curhatmu—buku diarymu.

火曜日, 2月 22, 2011

Joker

"A joker is a little fool who is different from everyone else.
He's not a club, diamond, heart, or spade. He's not an eight
or a nine, a king or a jack. He is an outsider. He is placed in 
the same pack as the other cards, but he doesn't belong there.
Therefore, he can be removed without anybody missing him."
(Jostein Gaarder - The Solitaire Mystery)



Aku menatap diriku di cermin itu. Cermin kotak yang bertengger  manis di kamarku. Irish hitamku mengamati sosok yang terpantul di sana. Masih tak berubah. Sosok itu masih sama, masih tak ada yang berubah. Bahkan ditambah dengan senyum yang biasa kuperlihatkan, lengkap sudah. Seolah-olah tak terjadi apapun.

Hanya aku.

Hanya aku yang tahu perubahan itu.

Perubahan yang muncul dari dalam hatiku, menghancurkan seluruh perasaanku. Bahkan seluruh semangat hidupku. Mereka tak akan percaya, tak akan ada yang percaya. Hanya saja, itulah yang terjadi.  Aku terpuruk, aku  tertinggal.

Kakiku letih melangkah, namun aku tak menemukan tempat dimana aku bisa merasa hidup, di mana aku merasa aku bagian dari komunitas itu.

Hatiku letih mencoba untuk memahami, namun yang ada hanya kepedihan  dan rasa sesak yang berkepanjangan, menyiksa dan membuatku merasa tak berguna.

Tanganku letih menggapai, pada akhirnya tak ada yang mengulurkan tangannya padaku, pada akhirnya aku hanya tetap berada dalam lubang yang menarikku lebih dalam lagi.

Iya.

Aku hancur.

Kepercayaan diriku lenyap sudah.

I am not belong to anywhere.

Karena aku Joker, yang tak pernah punya tempat untuk pulang.

月曜日, 2月 21, 2011

My Life isn't worth at all


Perih. Perih. Perih.

Entah berapa kali harus kuucapkan kata itu hingga aku bisa puas  dan tak  merasakan hal yang sama lagi. Tapi ternyata berapa kalipun kuucapkan, perih  itu masih bersandar nyaman di dinding hatiku  yang kini kian merana karena sakit yang tak terkira. 

Anggap   saja aku ini penghayal gila. Tapi hanya itu yang bisa  kulakukan untuk memastikan aku merasa nyaman dan tidak tersiksa oleh perih yang sama setiap kali kubentangkan tanganku untuk melihat betapa dunia itu begitu luas dan begitu mengerikan sekarang ini. Entah kapan permulaannya, aku menilai buruk dunia tempatku menapaki hidupku. Padahal, dulu  aku melihat dunia  selayaknya surga indah dimana aku bisa menjadi apa saja yang aku inginkan.

--heh, itu dulu. 

Dan lihatlah sekarang, aku terperangkap dalam sangkar kecil yang membuatku semakin terpuruk dalam keputusasaanku. Menyalahkan orang lain mungkin jalan lain yang bisa kupilih jika ditanya kenapa aku membiarkan diriku dimakan kegelapan seperti ini. Hanya saja, aku tahu bahwa semua itu tak ada gunanya dan pada akhirnya aku tetap tak bisa keluar dari kegelapan panjang yang kian menghancurkanku.

--lalu dimana letak kekhawatiran yang begitu menyiksa ini? Dimana asal mula semua penderitaan ini?

Dewasa. Menjadi dewasa adalah awal dari semua kegelapan panjangku. Ketika menapaki dunia ini dengan wujud  baru yang orang sebut adalah awal dari segala kehidupan baru, aku mulai merasa takut. Ketika dulu orang mengatakan kepintaranku akan membawaku pada kesuksesan, aku hanya bisa tersenyum, karena itu harapanku. Tapi hanya harapan. Harapan kosong yang ternyata membawaku pada rasa percaya diri yang menghancurkan keberadaanku di dunia. Karena ternyata ketika aku memasuki dunia baruku, semua itu tak berarti. Bagai sampah. Iya, dan ketika itu aku hancur.

Kupikir ketika aku mendapat kesempatan untuk memulai semuanya lagi, rasa ragu dan khawatir menyergapku. Hingga saat orang tuaku pun menginginkanku kembali ke  kampung halaman tercinta, aku  tahu aku akan memilih itu. 

--mengkambinghitamkan permintaan seorang ibu yang ingin selalu berada di dekatku.

Cih. Bullshit! Karena sebenarnya aku ini pengecut. Aku ini si pecundang bodoh yang  memang tak bisa apa-apa. Aku takut, aku terlalu takut menghadapi dunia baruku. Bodoh.  Tolol. Si pecundang tolol yang menginginkan segalanya tanpa bersusah payah, sementara dunia ini sekeras batu yang akan meminta tumbal untuk semua  kesuksesan. Takkan pernah kudapatkan hal itu secara Cuma-Cuma.

Maka aku berlindung... dari semua ketakutanku. Aku berlindung dengan imajinasiku. Berharap semua dunia yang berasal dari sana bisa terwujud. Tapi sekalipun tidak akan. Karena aku tak pernah berusaha. Aku terlalu takut untuk memulai.

--hukumlah.

Si bodoh ini memang menyiakan hidupnya. Hidup yang awalnya bagi orang lain begitu indah. Namun tak seindah kelihatannya. Hanya di luar saja, tertawa, tersenyum, dengan sejuta prestasi  yang mengundang decak kagum. Bodoh. Begitu bodoh. Karena sebenarnya, hati itu menangis, membutuhkan pertolongan namun tak pernah mengeluarkan sinyal SOS yang seharusnya ada.

--siapapun, tolong  aku. Tolonglah si bodoh ini.

Kalau saja, duniaku terhenti  saat aku menikmati hidupku ini. Mungkin, aku masih bisa bertahan.  Namun apa daya, poker face inilah teman setia yang bisa membuatku terlihat hidup.

--padahal, air mata itu telah mengering dan menenggelamkanku.