Kau iri.
Seperti halnya semua orang. Seperti halnya semua gadis yang biasanya terlihat begitu penuh percaya diri dan menganggap diri mereka adalah yang terbaik.
Seperti halnya gadis-gadis pesolek yang selalu menampilkan wajah terbaiknya dengan make-up ala gadis Jepang atau Korea yang sekarang ini tengah populer atau yang tetap bertahan dengan gaya penyanyi R & B barat sana lengkap dengan berbagai tindik di wajahnya.
Atau seperti gadis-gadis yang namanya selalu terucap dengan nada penuh kebanggaan dari bibir para guru di sekolahmu atau orangtua murid lain.
Kau iri.
Mereka iri.
Aku iri.
Hidup ini dipenuhi dengan rasa iri jika kau tak membuka matamu lebih lebar.
Selalu ada alasan dari semua rasa iri tersebut.
Seperti rasa irimu pada sahabatmu yang cantik dan anggun dengan tingkahnya yang lemah gemulai yang selalu mendapatkan semua perhatian lawan jenis yang kau taksir. Atau rasa iri para pesolek pada gadis pintar yang selalu dipuji kecerdasannya. Atau para gadis pintar namun kutu buku itu yang selalu iri pada keberanian para gadis pesolek untuk tampak berbeda dari yang lainnya.
Kau iri.
Mereka iri.
Bahkan sahabatmu sendiri pun iri padamu.
Menurutnya kau adalah gadis ceria yang selalu membuat orang lain kangen padamu. Selalu mencerahkan suasana. Membuat semua orang bersemangat kala mendapati kau berada di sampingnya.
Iya--
Iri.
Alasan utamanya?
Kau tak melihat apa yang dia lihat. Dan dia tak melihat apa yang kau lihat.
Seperti halnya asinan plum yang ada di belakang onigiri (makanan khas Jepang). Semua yang kau tak lihat ada di punggungmu. Dan semua orang melihatnya, membuat mereka khawatir karena mereka merasa tak memiliki apa yang ada padamu. Padahal tanpa kau sadari, kau pun memilikinya.
Atau seperti halnya rumput tetangga yang selalu tampak lebih hijau dibanding rumput sendiri.
Begitu.
木曜日, 9月 15, 2011
登録:
コメントの投稿 (Atom)

0 comments:
コメントを投稿